**Aku Menyuruhmu Berhenti Menatapku, Tapi Diam-Diam Berharap Kau Terus Melakukannya** Kabut lavender menyelimuti Danau Bulan, persis seper...

Dracin Terbaru: Aku Menyuruhmu Berhenti Menatapku, Tapi Diam-diam Berharap Kau Terus Melakukannya Dracin Terbaru: Aku Menyuruhmu Berhenti Menatapku, Tapi Diam-diam Berharap Kau Terus Melakukannya

Dracin Terbaru: Aku Menyuruhmu Berhenti Menatapku, Tapi Diam-diam Berharap Kau Terus Melakukannya

Dracin Terbaru: Aku Menyuruhmu Berhenti Menatapku, Tapi Diam-diam Berharap Kau Terus Melakukannya

**Aku Menyuruhmu Berhenti Menatapku, Tapi Diam-Diam Berharap Kau Terus Melakukannya** Kabut lavender menyelimuti Danau Bulan, persis seperti lukisan kakek buyutku. Aku, Li Mei, berdiri di tepian, aroma melati dan *kehilangan* menguar dari jubah sutraku. Di seberang sana, dia berdiri. Pria itu. Wang Zhao. Matanya... Mata itu menghantuiku. Irisnya seolah menyimpan serpihan bintang dan kenangan *terlarang* dari kehidupan yang *belum* sepenuhnya kuingat. Aku menyuruhnya pergi. Menjauh. "Jangan menatapku, Wang Zhao. Tatapanmu membuatku tidak nyaman." Ucapanku tajam, tapi di balik dinding hatiku, berbisik harapan *lirih*. Berharap dia akan tetap di sana, menantang laranganku. Kami bertemu secara kebetulan di Universitas Qinghua. Aku, mahasiswi arsitektur yang bercita-cita membangun kembali taman kerajaan yang hancur. Dia, mahasiswa sejarah yang terobsesi dengan Dinasti Tang. Dinasti yang *dikutuk*. Dinasti tempat aku dan dia... *Tidak*. Aku menggelengkan kepala. Kenangan itu terlalu menyakitkan. Fragmen-fragmen memori menyemburat: gaun merah menyala, istana megah, tawa menggema, lalu... pengkhianatan. Setiap malam, aku bermimpi. Mimpi tentang seorang putri, dikhianati oleh kekasihnya sendiri, seorang jenderal muda ambisius yang haus kekuasaan. Aku *merasakan* sakitnya, *melihat* tatapan mata yang sama seperti yang Wang Zhao tunjukkan padaku sekarang. Mata yang menyimpan cinta dan... *dusta*. Semakin sering aku bertemu dengannya, semakin jelas gambaran itu. Jenderal muda itu adalah dia. Wang Zhao. Di kehidupan sebelumnya, dia menjanjikan cinta abadi, tapi menukar hatiku dengan tahta. Aku di racun di malam pernikahan kami. *Dia* meracuniku. Namun, ada sesuatu yang *berbeda* kali ini. Aura di sekelilingnya terasa... *ringan*. Tidak seberat dan segelap dulu. Apakah mungkin dia juga mengalami reinkarnasi? Apakah dia juga *mengingat*? Suatu sore, di bawah pohon sakura yang bermekaran, dia memberiku lukisan. Lukisan Danau Bulan. "Aku melukis ini sebelum bertemu denganmu, Li Mei. Aku tidak tahu mengapa, tapi aku merasa terpanggil." Ujarnya, suaranya *serak*. Saat aku menyentuh kanvas itu, segalanya menjadi jelas. *Aku* yang memerintahkan kematianku sendiri. Aku, sang putri yang melihat kejatuhan kerajaannya di tangan kekasihnya, memilih untuk mengakhiri hidupku sendiri daripada menyaksikan Wang Zhao, sang pengkhianat, merebut mahkota. Aku *mengkhianatinya* dengan memilih kematian daripada hidup bersamanya. Balas dendamku kali ini sederhana: Aku akan membiarkannya hidup. Membiarkannya *merindukanku* selamanya. Aku akan menerima cinta yang tulus dari orang lain, membangun hidup yang dia *impikan* untuk kita berdua di kehidupan sebelumnya. Aku berbalik, meninggalkan Wang Zhao di bawah pohon sakura. "Wang Zhao," kataku, tanpa menoleh. "Aku tidak akan pernah bisa mencintaimu. *Selamat tinggal*." Aku mendengar langkah kakinya. Dia berusaha mengejarku. Tapi aku *berlari*. Menjauh dari masa lalu, menuju masa depan yang aku rancang sendiri. Saat aku menjauh, aku bisa merasakan tatapannya membakar punggungku. *Mungkin, di kehidupan selanjutnya, kita akan bertemu lagi, dan kali ini, mungkin kita akan memilih akhir yang berbeda...*
You Might Also Like: Mimpi Bertemu Burung Prenjak

0 Comments: