Baiklah, ini dia kisah dracin pendek yang kamu minta: **Aku Menggenggam Pedang Warisanmu, Tapi Bilahnya Menyebut Namamu** Rambutku bagai sun...

Drama Baru! Aku Menggenggam Pedang Warisanmu, Tapi Bilahnya Menyebut Namamu Drama Baru! Aku Menggenggam Pedang Warisanmu, Tapi Bilahnya Menyebut Namamu

Drama Baru! Aku Menggenggam Pedang Warisanmu, Tapi Bilahnya Menyebut Namamu

Drama Baru! Aku Menggenggam Pedang Warisanmu, Tapi Bilahnya Menyebut Namamu

Baiklah, ini dia kisah dracin pendek yang kamu minta: **Aku Menggenggam Pedang Warisanmu, Tapi Bilahnya Menyebut Namamu** Rambutku bagai sungai tinta yang mengalir di punggung, mataku menatap lembah berkabut di bawah sana. Di tanganku, **_pedang_** ini terasa asing sekaligus intim. Pedang *Long Yin*, warisan leluhur yang seharusnya memberiku kekuatan, malah memberiku...kerinduan. Setiap kali kuayunkan, bisikan halus menyelinap di telingaku, bukan namaku, melainkan: "Lin…" Namaku bukan Lin. Aku Xiao Yue, pewaris tunggal Klan Baihua yang kini hampir punah. Tapi *Long Yin* seolah menolakku. Ia menyimpan rahasia, sebuah simfoni bisu tentang masa lalu yang bukan milikku, namun terasa *begitu* dekat. Dunia ini memang dunia baru, setelah *kehancuran* besar seribu tahun lalu. Kekuatan spiritual tak lagi diagungkan, ilmu pedang mulai terlupakan. Tapi aku, Xiao Yue, merasakan benang tipis yang menghubungkan diriku dengan masa lalu itu. Mimpi-mimpi aneh menghantuiku, tentang seorang wanita anggun bernama Lin, dengan tawa bagai lonceng perak dan tatapan mata setajam pedang. Dia adalah pendekar legendaris, pelindung negeri yang dikhianati oleh... seseorang. Latihan demi latihan kulalui, bukan untuk menguasai *Long Yin*, melainkan untuk memahami siapa Lin. Ingatan itu datang perlahan, bagai tetesan air yang mengikis batu. Aku melihat pengkhianatan itu, bukan melalui mataku, melainkan melalui *perasaan* Lin. Dia percaya pada sahabatnya, pada kekasihnya, pada orang yang dia percayai *lebih dari dirinya sendiri*. Dan kepercayaan itu dihancurkan dengan keji. Pria itu... pria bernama *Wei*, adalah dalang dari segala kekacauan. Wei, yang kini menjadi salah satu *pemimpin tertinggi* di dunia baru ini, dunia yang lupa akan sejarah. Wei, yang wajahnya berkilau palsu di bawah cahaya lampu kota yang ramai. Kemarahan membakar dadaku, tapi ini bukan saatnya untuk amarah buta. Aku mengasah *Long Yin*, bukan untuk membalas dendam dengan darah, melainkan dengan *keputusan*. Saat Wei berpidato di depan ribuan orang, aku berdiri di barisan depan, *Long Yin* terselip di balik jubahku. Ia menawarkan janji-janji kosong tentang kemakmuran dan kedamaian. Aku tahu, janji itu dibangun di atas fondasi kebohongan dan pengkhianatan. Ketika ia menatapku, matanya menyiratkan pengakuan samar, sebuah getaran kecil yang tak mungkin disembunyikannya. Aku tersenyum tipis, bukan senyum maaf, melainkan senyum *pengetahuan*. Kemudian, aku angkat tangan, bukan untuk memberikan tepuk tangan, melainkan untuk menyatakan penolakanku. Penolakan yang diikuti oleh ribuan orang lainnya. Penolakan yang mengguncang fondasi kekuasaannya. Wei kehilangan posisinya, bukan karena pedang, melainkan karena *kepercayaan* yang runtuh. Ia dikucilkan, ditinggalkan, dan dilupakan. Karma, dalam bentuk yang paling halus. Malam itu, aku berdiri di tepi tebing, *Long Yin* bersandar di sampingku. Angin bertiup kencang, membawa bisikan masa lalu. "Lin…" Aku menatap bulan, dan berbisik, "Janji untukmu... akan kutepati, meski harus menunggu seribu tahun lagi…"
You Might Also Like: Review Pelembab Untuk Memperbaiki Skin

0 Comments: