**Cinta yang Menyeretku ke Dalam Dosa** Langit Jakarta malam ini mencetak awan kelabu seperti cetakan _bluescreen_ di layar komputer. Sinyal HP-ku hilang timbul, lebih sering hilang daripada timbul. Sama seperti harapan. Di layar yang berkedip, notifikasi dari aplikasi kencan itu masih bertahan: "Sedang Mengetik...". Sudah tiga jam. Tiga jam! Seolah jemarinya terjebak dalam labirin kata-kata, atau mungkin, dalam dimensi lain. Namanya Aruna. Aku, Renjana, hidup di tahun 2077. Dunia yang kusut, penuh drone pengintai, dan nostalgia akan masa lalu yang katanya lebih manusiawi. Aku bekerja sebagai *archivist memori*, memulihkan kenangan-kenangan dari hardisk yang berkarat. ironisnya, aku sendiri kesulitan mengingat apa yang kurasakan sebelum Aruna muncul dalam hidupku. Aruna. Nama itu seperti mantra. Pertama kali aku melihat fotonya di aplikasi itu, rasanya seperti ditarik ke lubang cacing. Wajahnya teduh, matanya menyimpan cerita yang belum kutahu. Tapi ada yang aneh. Pakaiannya, gaya rambutnya, semuanya… _kuno_. Kami mulai bertukar pesan. Aku menceritakan tentang pabrik oksigen buatan yang dibangun di atas bekas Monas, tentang kopi sintetis rasa durian yang menjijikkan, tentang langit yang selalu oranye karena polusi. Dia membalas dengan cerita tentang kemacetan Sudirman di jam pulang kantor, tentang konser musik indie di Senayan, tentang senja yang masih merah di Pantai Kuta. ***Kuta?*** Di tahun 2077, pantai Kuta hanya tinggal legenda. Lautnya sudah lama menelan daratan. Semakin lama kami berbicara, semakin aneh. Aruna sepertinya hidup di masa lalu. Di era yang jauh sebelum internet dikendalikan oleh algoritma jahat, sebelum rasa empati menjadi barang langka. Aku jatuh cinta padanya. Cinta yang _bodoh_, cinta yang **BERBAHAYA**. Cinta yang menarikku ke dalam dosa mempertanyakan realitasku sendiri. Aku mulai mencari cara untuk berkomunikasi dengannya secara langsung, untuk menembus dinding ruang dan waktu yang memisahkan kami. Aku mendatangi Profesor Dharma, seorang ilmuwan gila yang percaya bahwa waktu itu lentur seperti karet gelang. Profesor Dharma tertawa terbahak-bahak mendengar ceritaku. "Cinta lintas dimensi? Nak, kamu pikir ini film *sci-fi* murahan?" Namun, setelah kubayar dengan chip memori berisi kenangan masa kecilnya, Profesor Dharma luluh juga. Dia memberiku sebuah alat aneh, semacam _transceiver_ yang bisa mengirimkan gelombang otak ke masa lalu. "Tapi ingat," katanya dengan nada **MENGANCAM**, "ada harga yang harus dibayar. Mengacaukan garis waktu bisa berakibat fatal." Aku tidak peduli. Aku memasang alat itu di kepalaku, menutup mata, dan membayangkan wajah Aruna. Aku berteriak dalam hati, memanggil namanya sekuat tenaga. Dan kemudian, aku mendengar suaranya. "Renjana?" Suaranya gemetar. "Aku... aku melihatmu." Aku membuka mata. Di hadapanku, Aruna berdiri. Dia terlihat bingung, tapi senyumnya tetap indah. Namun, ada yang *salah*. Aruna di depanku... terlihat **pucat**. Terlalu pucat. Seperti... hantu. Dia meraih tanganku. Sentuhannya dingin, sedingin es. "Aku sudah meninggal, Renjana," bisiknya. "Aku meninggal dalam kecelakaan mobil di Sudirman lima tahun lalu. Aku... aku hanya gema. Gema dari kehidupan yang tak pernah selesai." Mataku memanas. Semua percakapan kami, semua harapan kami, semua cinta ini... hanyalah ilusi? Aruna tersenyum pilu. "Terima kasih sudah mendengarkanku, Renjana. Aku... aku sudah lelah." Kemudian, dia menghilang. Hancur menjadi debu digital yang berterbangan di udara. Aku terjatuh, memeluk lututku sendiri. Profesor Dharma masuk ke dalam ruangan, wajahnya penuh penyesalan. "Aku sudah memperingatkanmu, Renjana. Kamu telah mengacaukan garis waktu. Sekarang, dunia ini akan..." Sinyal hilang. Layar meredup. Semua *mati*. …dan akhirnya semua ini benar-benar hanyalah mimpi buruk, ataukah **PESAN TERAKHIR** sebelum segalanya **TAMAT**...
You Might Also Like: Agen Skincare Bisnis Tanpa Stok Barang

0 Comments: