Baiklah, inilah kisah dracin pendek yang kamu minta: **Kau Mencariku dalam Doa, dan Aku Menjawab dalam Mimpi** Kabut putih menggantung rendah di antara puncak-puncak Gunung Tian Shan. Sunyi. Bahkan angin pun enggan menari di antara pepohonan pinus yang menjulang, seolah takut membangkitkan sesuatu yang seharusnya tetap tertidur. Di tengah kabut itu, sesosok pria berdiri, siluetnya samar namun kehadirannya begitu kuat hingga menusuk tulang. Gaun sutra hitamnya berkibar pelan, memperlihatkan sulaman naga perak yang berkelap-kelip bagai bintang yang terperangkap. Dia adalah Li Wei, pewaris terakhir Klan Bai Hu, yang lima tahun lalu dinyatakan tewas dalam pemberontakan berdarah. Lima tahun, waktu yang cukup untuk mengubah dendam menjadi kerinduan, dan kerinduan menjadi obsesi. Di kejauhan, di antara kabut yang semakin menebal, muncul sosok lain. Seorang wanita, mengenakan jubah putih sederhana, rambutnya tergerai panjang menutupi sebagian wajahnya. Ini adalah Mei Lan, putri angkat Kaisar, dan tunangan Li Wei sebelum tragedi itu terjadi. "Wei gege?" bisiknya, suara seraknya nyaris tenggelam dalam keheningan. Li Wei tidak menjawab. Ia hanya berbalik perlahan, matanya yang gelap memancarkan cahaya dingin yang menusuk. "Mei Lan. Kau masih mengenalku?" Mei Lan mendekat, langkahnya ragu. "Bagaimana mungkin aku melupakanmu? Aku *mencarimu* setiap malam dalam doa-doaku, memohon pada langit untuk membawamu kembali." Li Wei tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya. "Dan aku menjawab dalam mimpi-mimpimu, bukan?" Mereka berdiri berhadapan, terpisah hanya beberapa langkah. Kabut berputar di sekitar mereka, menyembunyikan dan mengungkapkan, seolah menari mengikuti drama yang akan segera terungkap. "Kenapa kau kembali?" tanya Mei Lan, suaranya bergetar. "Kau tahu, kehadiranku di istana sebagai putri angkat Kaisar adalah satu-satunya cara untuk menjaga nama baik keluarga Bai Hu...jika Kaisar tahu kau masih hidup..." "Nama baik?" Li Wei mencibir. "Kau pikir aku peduli dengan nama baik? Selama lima tahun aku hidup dalam kegelapan, merencanakan pembalasan dendam. Dan kau, Mei Lan, kau adalah kunci semuanya." Mei Lan mengerutkan kening. "Kunci? Apa maksudmu?" Li Wei mendekat selangkah. "Ingat malam pemberontakan itu? Ingat siapa yang membisikkan rencana pertahanan klan pada Kaisar? Ingat siapa yang membuka gerbang istana dari dalam?" Wajah Mei Lan pucat. "Itu...itu bohong! Aku tidak pernah..." "Benarkah?" Li Wei mengeluarkan sebuah jepit rambut perak dari balik jubahnya. Jepit rambut itu berhiaskan bunga plum, identik dengan yang selalu Mei Lan kenakan. "Jepit rambut ini ditemukan di kamar Kaisar malam itu. *Miliku, bukan?*" Mei Lan terdiam. Air mata mulai membasahi pipinya. "Aku...aku melakukan apa yang harus kulakukan. Klan Bai Hu terlalu kuat. Mereka mengancam kekaisaran. Aku hanya melindungi rakyatku." "Melindungi?" Li Wei tertawa hambar. "Kau mengkhianati cintamu, mengkhianati keluargaku, demi kekuasaan yang bahkan bukan milikmu?" Ia mendekat lagi, meraih dagu Mei Lan dengan kasar. "Kau pikir aku tidak tahu? Kau yang merencanakan semuanya sejak awal. Kau menggunakan cintaku sebagai senjata, kau menjebak keluargaku, dan kau bangkit menjadi putri kesayangan Kaisar." Mei Lan menatap Li Wei dengan mata penuh keputusasaan. "Aku...aku mencintaimu! Aku melakukan semua ini untuk melindungi kita! Jika klan Bai Hu menang, kita tidak akan pernah bisa bersama!" Li Wei melepaskan cengkeramannya. "Cinta? Cinta macam apa yang dibangun di atas pengkhianatan dan kebohongan?" Kabut tiba-tiba berputar lebih kencang, menyembunyikan wajah Mei Lan. Ketika kabut itu perlahan menghilang, hanya Li Wei yang tersisa, berdiri di tengah kesunyian yang memekakkan telinga. Di tangannya, tergenggam erat jepit rambut perak. Dia menatap jepit rambut itu, lalu mendongak ke langit yang kelabu. "Kau mungkin berpikir kau memenangkan permainan ini, Mei Lan. Tapi ketahuilah, *bidak selalu bergerak sesuai keinginan raja.*"
You Might Also Like: Master Long Division Unlocking Secrets

0 Comments: