**Senja di Jembatan Patah** Hujan menggigil membasahi Kota Tua, persis seperti kenangan yang selalu datang tanpa permisi. Aku berdiri di Jembatan Patah, tempat ***SUMPAH*** itu dulu diikrarkan. Lima tahun. Lima tahun sejak senyumnya, senyum Lin Yi, terkoyak oleh pengkhianatan. Di kejauhan, siluet seorang pria berdiri di bawah *cahaya lentera yang nyaris padam*. Itu dia. Jiang Chen. Sosok yang dulunya memenuhi duniaku dengan tawa, kini hanya menyisakan bayangan *patah* di hati. Dulu, kami adalah satu. Seperti akar pohon yang saling memeluk. Tapi, Jiang Chen memilih jalan yang berbeda. Ambisi dan kekuasaan membutakannya. Ia menikahi putri keluarga Zhao, demi tahta dan kehormatan, meninggalkan aku dengan hati hancur berkeping-keping. "Lin Yi..." Suaranya, serak dan berat, memecah kesunyian. Aku menoleh, menatapnya dengan tatapan setenang danau es. Tidak ada amarah. Tidak ada air mata. Hanya kekosongan yang dalam. "Kau datang," ujarku, pelan. Suaraku nyaris tenggelam dalam deru hujan. "Aku harus. Setelah sekian lama..." "Setelah sekian lama?" Aku tersenyum sinis. Senyum yang *tidak lagi memancarkan kebahagiaan*, melainkan menyimpan bara dendam yang membara. "Setelah sekian lama, kau baru menyadari bahwa aku masih ada?" Jiang Chen terdiam. Wajahnya tampak letih, diterangi oleh cahaya remang lentera. "Aku... aku menyesal." Kata-kata itu seperti pisau yang berputar di dalam hatiku. **MENYESAL?** Terlambat. Penyesalannya tidak akan mengembalikan waktu. Tidak akan menghapus luka yang menganga di hatiku. "Penyesalanmu tidak berarti apa-apa," bisikku. Aku mendekat, menatap matanya lekat-lekat. "Kau mengambil segalanya dariku. Kebahagiaan, cinta, dan masa depanku." Jiang Chen menggeleng lemah. "Aku bisa menjelaskan—" "Penjelasan?" Aku tertawa hambar. "Kau pikir sebuah penjelasan bisa menebus semua ini?" Aku mengeluarkan sebuah *amplop usang* dari balik mantelku. Amplop itu berisi bukti. Bukti yang akan menghancurkan kerajaan yang dibangun Jiang Chen dengan pengkhianatan. "Lima tahun, Jiang Chen. Lima tahun aku mengumpulkan ini. Setiap bukti, setiap saksi, setiap kebohongan yang kau tutupi rapat-rapat." Wajah Jiang Chen pucat pasi. Ia mundur selangkah, seolah baru menyadari kedalaman jurang yang telah ia gali sendiri. "Kau..." Aku mendekat, membisikkan kata-kata yang akan menghancurkan dunianya. "Kau pikir aku hanya berdiam diri dalam kesedihan? Kau salah. Aku merencanakan ini sejak hari pertama." Hujan semakin deras, seolah alam ikut menyaksikan *kehancuran yang akan datang*. Aku menyerahkan amplop itu padanya. "Semua yang kau miliki, semua yang kau raih dengan pengkhianatan, akan lenyap. Aku akan memastikan itu." Aku berbalik, meninggalkan Jiang Chen di bawah *cahaya lentera yang semakin redup*. Aku tahu, hidupnya akan segera berubah menjadi neraka. Saat aku melangkah menjauh, aku teringat percakapan terakhir kami di jembatan ini, lima tahun lalu... Di saat ia berkata, "*Aku janji, Lin Yi. Aku akan selalu melindungimu!*" Namun, ada satu rahasia yang Jiang Chen *tidak pernah tahu*: Akulah yang sebenarnya... *selama ini melindunginya dari kebenaran yang lebih mengerikan*.
You Might Also Like: Jual Skincare Aman Untuk Kulit Sensitif

0 Comments: