**Air Mata yang Menjadi Penebusan** Gerimis sore membasahi genting Istana Musim Dingin. Aroma *mei hua* yang layu berbaur dengan bau tanah basah, seperti menyiratkan kesedihan abadi. Di paviliun terpencil, Xiao Lan, janda permaisuri yang tersisih, duduk termenung di depan meja riasnya. Bayangan wajahnya yang dulu dipuja, kini dipenuhi kerutan dan raut penyesalan yang dalam. Dulu, ia adalah bunga istana yang paling bersinar, merebut hati Kaisar muda Cheng. Tapi ambisi telah membutakan mata hatinya. Ia memilih kekuasaan, meracuni permaisuri sah yang lemah lembut, lalu merebut takhta yang seharusnya bukan miliknya. Sekarang, di usianya yang senja, kekuasaan itu telah direnggut, dan ia ditinggalkan seorang diri, dengan kenangan pahit yang terus menghantuinya. Tiba-tiba, langkah kaki mendekat. Xiao Lan mengenalinya. Langkah kaki itu milik *Lin Wei*, panglima perang yang gagah berani, pria yang dulu mencintainya dengan sepenuh hati, pria yang ia khianati demi ambisinya. Lin Wei berdiri di ambang pintu, siluetnya terbingkai oleh cahaya senja. Wajahnya yang dulu penuh senyum, kini keras dan dingin. Di tangannya, ia menggenggam sebuah kotak kayu kecil. "Xiao Lan," suaranya bergetar, bukan karena cinta, melainkan amarah yang tertahan. "Kau ingat janji kita di bawah pohon *ying hua* dulu?" Xiao Lan menunduk. Bagaimana mungkin ia lupa? Janji tentang cinta abadi, tentang hidup sederhana berdua, jauh dari hiruk pikuk istana. Janji yang dengan mudah ia khianati. Lin Wei membuka kotak itu. Di dalamnya, terbaring sebuah jepit rambut *mei hua* emas, hadiah yang dulu ia berikan pada Xiao Lan sebagai simbol cinta mereka. Jepit rambut itu berlumuran noda merah kecoklatan. "Darah Permaisuri Xian," desis Lin Wei. "Darah orang yang kau bunuh demi mahkota." Xiao Lan mengangkat wajahnya, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Lin Wei, maafkan aku... Aku... aku menyesal!" Lin Wei tertawa pahit. "Penyesalanmu terlambat. Kau telah merusak segalanya. Tapi jangan khawatir, keadilan akan ditegakkan." Dengan gerakan cepat, Lin Wei meletakkan jepit rambut itu di atas meja rias. Lalu, ia berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Xiao Lan terisak di paviliun yang sepi. Keesokan harinya, Xiao Lan ditemukan tak bernyawa di kamarnya. Di tangannya tergenggam erat jepit rambut *mei hua* emas itu. Diduga, ia meninggal karena serangan jantung. Namun, bisikan di kalangan istana mengatakan hal lain. Konon, sebelum meninggal, Xiao Lan sempat meminum secangkir teh yang dihadiahkan oleh seorang pelayan baru. Pelayan yang wajahnya *mirip sekali* dengan mendiang Permaisuri Xian. *Apakah itu hanya takdir, ataukah dendam yang menyamar sebagai keadilan?*
You Might Also Like: Supplier Kosmetik Tangan Pertama

0 Comments: