**Selir Rendahan yang Tak Diingat Siapa Pun, Tapi Mati di Pelukan Kaisar** Cahaya rembulan menelusup ke bilik kumuh Selir Lian. Nama itu sendiri, Lian, bagai kapas yang tertiup angin, **TERLUPAKAN** di Istana Naga ini. Ia hanyalah selir rendahan, hadiah dari seorang adipati yang ingin menjilat Kaisar. Tidak cantik, tidak berbakat, tidak punya koneksi. Intinya, *tidak penting*. Namun, malam ini berbeda. Darah mengalir dari mulutnya, panas membakar dadanya. Racun. Siapa? Mengapa? Otaknya berputar, kosong. Lalu, sebuah kilas balik. Bukan kilas balik masa kini, tapi... sesuatu yang lain. *Kehidupan lain*. *Dulu*, ia adalah Putri Yu, yang dicintai seluruh kerajaan. Pintar, cantik, berkuasa. Ia memiliki segalanya, termasuk cinta seorang pangeran yang berjanji setia abadi. Tapi kemudian, datanglah seorang selir baru, dengan senyum manis dan bisikan beracun. Selir Mei. Pangeran terpesona, Yu dikhianati, *diracuni* dalam sebuah perjamuan mewah. Kini, ingatan itu kembali. Putri Yu, selir Lian... dua jiwa dalam satu wadah. Selir Mei... wajahnya, senyumnya, ***KEKEJAMANNYA***, terukir jelas di benaknya. Di kehidupan ini, Selir Mei adalah Permaisuri agung, wanita yang paling dihormati dan ditakuti di seluruh kekaisaran. Lian terbatuk, darah semakin deras. Kaisar tiba-tiba menerobos masuk, wajahnya pucat pasi. Ia menggendong Lian, air mata membasahi pipinya. "Lian! Siapa yang melakukan ini?! Katakan!" Lian hanya tersenyum lemah. Inilah momennya. Balas dendamnya. Bukan dengan teriakan, bukan dengan sumpah serapah, tapi dengan *keheningan*. Ia tahu, jika ia menyebut nama Permaisuri, Kaisar akan murka. Tapi Permaisuri terlalu kuat, terlalu licik. Akan ada perang saudara, korban yang lebih banyak. Lian memilih jalan lain. Ia memejamkan mata, membisikkan sebuah nama, bukan nama Permaisuri, tapi nama seorang jenderal muda yang setia, berbakat, dan haus akan kekuasaan. "Jenderal… Li… ia… mencintai… Yang Mulia…" Itu cukup. Kecurigaan ditanam. Benih kekacauan disemai. Kaisar, yang dibutakan oleh cinta dan kemarahan, akan melakukan sisanya. Napas Lian tersengal-sengal. Ia merasakan pelukan Kaisar semakin erat. Inilah ironi hidupnya. Mati di pelukan pria yang, entah di kehidupan mana, mungkin mencintainya. Ia menghembuskan napas terakhir, dengan senyum tipis di bibirnya. *Dendamnya* telah terlaksana. Bukan dengan darah, tapi dengan takdir yang diubah secara halus. Permaisuri akan jatuh, jenderal Li akan naik, dan kekaisaran akan terguncang. Di ruangan yang remang-remang itu, Kaisar menangis meraung-raung, mendekap jasad selir rendahan yang tak diingat siapa pun. Ia tidak tahu, bahwa di balik kematian itu, tersembunyi sebuah ***BALAS DENDAM ABADI***. Seribu tahun lagi, jiwa kita akan bertemu kembali, dan saat itulah, kisah ini akan benar-benar selesai.
You Might Also Like: Skincare Halal Dan Aman Tersedia

0 Comments: