Baiklah, ini dia kisah dracin pendek yang kamu minta: **Aku Mencintaimu dengan Luka, dan Luka Itu Jadi Jembatan Menuju Kekekalan** Lorong istana itu bagai nadi yang membeku. Sunyi merayap, hanya terpecah oleh langkah kaki **GAUNG** yang bergema, memantul dari pilar-pilar marmer yang dingin. Kabut pegunungan *YUN* menggantung di luar jendela, serupa tirai kelabu yang menyembunyikan rahasia kelam. "Kau kembali," bisik Putri Lianhua, suaranya serak, nyaris tak terdengar di antara desau angin. Matanya yang bening, dulu penuh cinta, kini hanya memancarkan gurat-gurat pilu. Pria di hadapannya, Xu Feng, tersenyum tipis. Lima tahun lalu, dia dinyatakan tewas dalam pertempuran. Kini, dia berdiri di hadapan Lianhua, bayangan masa lalu yang menghantui. "Ya, Lianhua. Aku kembali untuk menjawab pertanyaan yang tak pernah kau tanyakan." "Pertanyaan? Pertanyaan apa lagi yang perlu dijawab? Kau mati! Aku menyaksikan sendiri!" desis Lianhua, dadanya naik turun. Xu Feng mendekat, wajahnya sedekat hembusan napas. "Kau memang menyaksikan *sesuatu*, tapi bukan kematianku. Kau menyaksikan rencanaku." Lianhua terhuyung mundur. "Rencana? Omong kosong apa ini?" "Cinta ini, Lianhua... cinta kita adalah medan perang. Dan dalam perang, selalu ada korban. Tapi, siapa korban sebenarnya, itu yang harus kau tanyakan pada dirimu sendiri." Xu Feng mengulurkan tangan, menyentuh pipi Lianhua yang bergetar. "Aku mencintaimu dengan luka, ya. Luka yang kau kira membunuhku. Tapi, luka itu justru menjadi jembatan menuju kekekalan. Kekekalan kekuasaan... kekekalan kontrol." Lianhua menatap Xu Feng dengan nanar. Kilasan-kilasan masa lalu berputar di benaknya. Senyum Xu Feng yang selalu teduh, tatapan matanya yang penuh cinta, semuanya terasa seperti topeng yang sempurna. "Kau..." bibir Lianhua bergetar. "Kau tahu... kau tahu tentang rencana mereka membunuhku, rencana mereka untuk menggulingkan tahta, dan kau..." Xu Feng mengangguk, senyumnya mengembang sempurna. "Dan aku membiarkannya terjadi. Aku membiarkan mereka mencoba. Karena dengan begitu, aku bisa melihat siapa yang benar-benar setia, dan siapa yang hanya menginginkan kekuasaan. Dan sekarang, setelah semua bidak terpasang di tempatnya... *AKU-lah* yang memegang kendali." Lianhua menatapnya, *terpana*. "Kau pikir aku mencintaimu tanpa syarat? Sayangku, cinta adalah alat. Alat untuk mencapai tujuan. Dan tujuanku... adalah *KERAJAAN*." Xu Feng menggenggam erat tangan Lianhua, matanya berbinar penuh kemenangan. "Sekarang, mari kita bangun dinasti baru, bersama. Dinasti yang dibangun di atas darah, pengkhianatan... dan cintamu yang *buta*." Lianhua, sang putri yang anggun dan lembut, terdiam membeku. Di lorong istana yang sunyi itu, kebenaran akhirnya terungkap: **DIA-lah yang menjadi korban sesungguhnya.**
You Might Also Like: 53 Self Identity Drawing Ideas Navigate

0 Comments: