## Senyum yang Tak Sempat Kuterima Di antara kabut Lembah *Cahaya Bulan*, terukir senyum yang hanya bersemayam di benakku. Bukan senyum nyat...

Cerpen Keren: Senyum Yang Tak Sempat Kuterima Cerpen Keren: Senyum Yang Tak Sempat Kuterima

Cerpen Keren: Senyum Yang Tak Sempat Kuterima

Cerpen Keren: Senyum Yang Tak Sempat Kuterima

## Senyum yang Tak Sempat Kuterima Di antara kabut Lembah *Cahaya Bulan*, terukir senyum yang hanya bersemayam di benakku. Bukan senyum nyata, bukan pula senyum yang pernah kulihat di dunia fana. Ia adalah senyum mimpi, senyum yang terlukiskan di kanvas **waktu yang terlupakan**. Di taman sakura yang selalu bermekaran di musim dingin, aku melihatnya. Gaun sutra putihnya berdesir bagai riak sungai yang diterpa angin *musim gugur*. Wajahnya, sebuah lukisan kabut pagi – samar, namun abadi dalam ingatanku. Aku mengejarnya, melintasi lorong-lorong waktu yang bengkok dan berdebu. Setiap langkahku adalah doa, setiap hembusan napasku adalah harapan. Tetapi dia, bagai fatamorgana di padang pasir *kalbu*. Semakin dekat aku meraihnya, semakin jauh dia menghilang. Bayangannya menari-nari di antara pepohonan bambu yang berbisik, suaranya bagai melodi seruling yang sayu. Aku terjebak dalam labirin **ilusi**, terombang-ambing di samudra kerinduan. Mungkin dia hanyalah *rekaan hatiku*, sebuah pelarian dari kenyataan yang pahit. Mungkin dia adalah jiwa yang terpisah di dimensi lain, terikat padaku oleh benang takdir yang tak kasat mata. Atau mungkin… dia adalah potongan masa lalu yang berusaha kembali, namun terhalang oleh tirai waktu yang tebal. Aku terus mencari, menelusuri jejaknya di antara reruntuhan kuil kuno dan di balik topeng-topeng Noh yang menyimpan rahasia. Di setiap senja yang meredup, aku membisikkan namanya, berharap angin membawanya kepadanya. Namun, hanya gema kesunyian yang kembali menyapa. *Suatu malam*, di bawah rembulan yang penuh, aku menemukan sebuah kotak musik antik. Kotak itu terbuat dari kayu cendana yang berukir bunga teratai. Saat kubuka, terdengarlah melodi yang sangat familiar – melodi yang sering kudengar dalam mimpiku. Dan kemudian, *MOMEN ITU DATANG*. Di dalam kotak musik, terdapat sebuah lukisan kecil. Lukisan seorang wanita dengan senyum yang sama persis dengan senyum yang selama ini kucari. Di belakang lukisan, tertulis sebuah nama: "Mei Lan". Dan di bawahnya, sebuah kalimat yang membuat jantungku berhenti berdetak: "Ibunda". **IBUNDA!?** Rupanya, *dia* bukanlah belahan jiwaku, bukan pula mimpi yang harus kuraih. Dia adalah masa lalu, dia adalah kenangan yang seharusnya kubiarkan beristirahat. Senyum itu… adalah senyum ibuku, senyum yang tak sempat kuterima sebelum dia pergi. Keindahan ini… justru melukai lebih dalam. Penemuan ini… justru menghancurkan harapan. *Dulu, aku pernah berjanji akan menjagamu, Nak...*
You Might Also Like: 167 Parabola Equation Relationship

0 Comments: