Lentera-lentera istana memantulkan cahaya redup di wajah Lian Hua, menerangi keindahan yang disembunyikan di balik tatapan beku. Dulu, matanya berkilau penuh cinta, mendamba Kaisar yang kini duduk di singgasana – pria yang sama yang merenggut segalanya darinya. Bukan hanya hatinya, tapi juga keluarganya, kehormatannya, dan namanya.
Di bawah bayang-bayang pohon plum yang mekar di musim dingin, Lian Hua mengingat malam TRAGEDI itu. Janji-janji manis yang terucap di bawah rembulan purnama kini terasa seperti racun yang mengalir deras di nadinya, mengingatkannya pada nama pria itu, Kaisar Hong, yang dulu ia panggil dengan segenap cintanya.
Ia telah menjadi pion dalam permainan kekuasaan. Dijanjikan mahkota, namun berakhir menjadi korban, dikorbankan demi ambisi seorang pria yang terobsesi dengan tahta. Cinta yang dulu membara kini hanya abu yang menyelimuti hatinya. Luka itu menganga, membentuk jurang yang dalam dan tak terperi.
Namun, seperti bunga teratai yang tumbuh di lumpur, Lian Hua menolak untuk menyerah. Ia belajar, ia mengamati, ia merencanakan. Kekuatan dan kelembutan menjadi senjatanya. Ia melatih dirinya dalam seni bela diri, mempelajari racun, dan mengasah otaknya menjadi setajam pedang. Ia mengubur dalam-dalam rasa sakitnya, membiarkannya bermetamorfosis menjadi determinasi yang tak tergoyahkan.
Kini, bertahun-tahun kemudian, Lian Hua kembali ke istana bukan sebagai wanita yang dulu dicintai Kaisar, tapi sebagai Penasihat Agung – sosok misterius yang kehadirannya ditakuti dan dihormati. Ia memegang kendali atas banyak hal, memanipulasi arus politik dengan keanggunan seorang dewi. Setiap senyumnya adalah rencana, setiap bisikannya adalah bahaya.
Ia tidak berteriak, tidak marah, tidak menuntut keadilan. Ia tidak membutuhkan itu. Balas dendamnya bukan tentang darah dan air mata, tapi tentang kekuasaan. Kekuasaan untuk menghancurkan Kaisar Hong, bukan dengan kekerasan, tapi dengan cara yang lebih menyakitkan: mencabut harga dirinya, menghancurkan kerajaannya, dan membuatnya menyesal telah dilahirkan.
Ia melihat Kaisar Hong dari kejauhan, pria itu kini tampak renta dan penuh keraguan. Senyum tipis menghiasi bibir Lian Hua. Ia telah mengantarkan Kaisar Hong pada titik terendahnya, dan kini saatnya untuk menyelesaikan permainan ini.
Dengan langkah anggun, Lian Hua mendekati Kaisar Hong. Ia menatap matanya, tidak ada lagi cinta, hanya kehampaan dan ketenangan yang mengerikan. Ia membisikkan sesuatu di telinganya, kata-kata yang akan menghantuinya hingga akhir hayatnya.
Lalu, dengan senyum misterius, Lian Hua berbalik, meninggalkan Kaisar Hong yang terpaku dalam ketidakberdayaan. Ia berjalan menuju balkon, memandang ke arah cakrawala yang mulai memerah. Kerajaannya kini berada dalam genggamannya, dan ia, akhirnya, bisa bernapas lega.
"Dan kini," bisiknya pada angin, "aku adalah kaisar untuk diriku sendiri, dengan mahkota yang terbuat dari air mata dan dendam, dan kekuasaan yang tak terbandingkan, aku akan memerintah... dengan caraku sendiri."
You Might Also Like: Jualan Skincare Peluang Usaha Ibu Rumah
0 Comments: