Aku Terbiasa Dihormati, Tapi Kau Membuatku Belajar Rendah Hati
Bab 1: Debu Istana
Dulu, aku adalah Lian Mei, putri kesayangan Kaisar, berlindung di balik sutra dan emas Istana Terlarang. Aku tumbuh dikelilingi sanjungan, setiap keinginanku adalah perintah. Aku terbiasa dihormati. Namun, kebahagiaan itu rapuh seperti kelopak bunga persik di musim gugur.
Semua berubah ketika Ayahanda, Kaisar yang kucintai, memutuskan menjodohkanku dengan Jenderal Rong, pahlawan perang yang dingin dan tanpa senyum. Bukan karena aku tak menyukainya; ia adalah pria yang gagah, dengan mata setajam elang. Tapi hatiku telah menjadi milik orang lain – seorang cendekiawan muda bernama Lin Wei yang mencintaiku dengan tulus, tanpa memandang status.
Jenderal Rong menikahi aku demi kekuasaan, bukan cinta. Lin Wei… ia dikhianati dan difitnah. Ayahanda, yang termakan hasutan penasihat istana yang korup, menjebloskannya ke penjara bawah tanah. Aku memohon, menangis, merendahkan diri. Namun, semua sia-sia. Lin Wei, cintaku satu-satunya, meregang nyawa di sana, di kegelapan dan kedinginan.
Kematian Lin Wei adalah kematian Lian Mei. Aku, sang putri manja, lenyap. Yang tersisa hanyalah seonggok abu, seorang wanita yang dilukai cinta dan dikhianati kekuasaan. Tapi dari abu itulah, sebuah tekad membara mulai tumbuh.
Bab 2: Bunga di Medan Perang
Bertahun-tahun berlalu. Aku belajar memainkan peran sebagai istri Jenderal Rong. Aku belajar tersenyum walaupun hatiku berdarah. Aku belajar bersikap patuh, padahal dalam diam, aku menyusun rencana. Aku melihat bagaimana Jenderal Rong memanfaatkan rakyat jelata, bagaimana ia mengkhianati kepercayaan kaisar, bagaimana ia mencuri kekayaan negara untuk memperkaya diri sendiri.
Aku adalah bunga yang tumbuh di medan perang. Aku menyerap semua kekejaman di sekitarku, mengubahnya menjadi kekuatan. Aku belajar tentang politik, tentang strategi, tentang manipulasi. Aku menjadi penasihat rahasia Jenderal Rong, membisikkan kata-kata yang ia kira adalah idenya sendiri, padahal aku lah yang mengarahkannya ke jurang kehancuran.
Orang-orang istana melihatku dengan heran. Mereka terkejut dengan ketenanganku, dengan kecerdasan baruku. Mereka tidak tahu bahwa di balik wajah yang tenang ini, terdapat api dendam yang membara. Dendam bukan dengan amarah, tapi dengan ketenangan yang MEMATIKAN.
Bab 3: Kebangkitan
Saat yang kunanti-nantikan tiba. Jenderal Rong, karena kesombongannya, melakukan kesalahan fatal. Ia memberontak terhadap kaisar. Aku, dengan informasi yang telah kukumpulkan bertahun-tahun, diam-diam memberikan bukti kepada para jenderal yang setia kepada kaisar.
Pemberontakan Jenderal Rong dipadamkan dengan cepat. Ia ditangkap, diadili, dan dihukum mati. Saat ia menatapku dengan tatapan marah dan tak percaya di saat-saat terakhirnya, aku hanya tersenyum tipis.
Ayahanda, Kaisar, memohon maaf padaku atas semua yang telah terjadi. Ia akhirnya melihat kebenaran, ia menyadari betapa besar kesalahannya. Ia ingin mengembalikan aku ke istana, mengembalikan statusku sebagai putri.
Aku menolak. Aku bukan lagi Lian Mei, putri yang naif dan lemah. Aku adalah wanita yang telah ditempa oleh penderitaan, yang telah belajar rendah hati melalui pengkhianatan. Aku telah membangun diriku kembali dari kehancuran. Aku telah menemukan kekuatanku sendiri.
Aku meninggalkan istana, menuju ke tempat yang jauh dari kekuasaan dan intrik. Aku ingin membangun kehidupan yang baru, kehidupan yang kuimpikan bersama Lin Wei, kehidupan yang damai dan sederhana.
Aku berjalan menuju matahari terbenam, membawa bersamaku semua luka dan semua keindahan. Aku tidak memaafkan, aku tidak melupakan. Aku hanya… MENERIMA.
Dan di langkah terakhirku, aku menyadari bahwa mahkota yang selama ini kucari bukanlah mahkota putri, melainkan mahkota ketenangan batin yang kini akhirnya, aku kenakan sendiri.
You Might Also Like: 93 Chronic Pancreatitis Complications
0 Comments: