Bayangan yang Menjadi Doa Setiap Malam Embun pagi merayapi kelopak magnolia, sehalus sentuhan Yue , namun sedingin hatinya. Di balik tirai...

Bikin Penasaran: Bayangan Yang Menjadi Doa Setiap Malam Bikin Penasaran: Bayangan Yang Menjadi Doa Setiap Malam

Bikin Penasaran: Bayangan Yang Menjadi Doa Setiap Malam

Bikin Penasaran: Bayangan Yang Menjadi Doa Setiap Malam

Bayangan yang Menjadi Doa Setiap Malam

Embun pagi merayapi kelopak magnolia, sehalus sentuhan Yue, namun sedingin hatinya. Di balik tirai sutra Istana Timur, Yue hidup dalam kebohongan yang dianyam rapi oleh ibunya, Permaisuri Zhao. Ia adalah bayangan sang kakak, Putri Mingzhu, yang lumpuh akibat kecelakaan tragis sepuluh tahun lalu. Sejak itu, Yue menggantikan Mingzhu di depan publik, menanggung senyum, pakaian, dan kewajiban putri kerajaan.

Di sisi lain Kota Terlarang, Li Wei, sang jenderal muda yang dipuja karena keberaniannya di medan perang, menyimpan luka menganga. Ia adalah tunangan Putri Mingzhu sebelum kecelakaan itu. Sekarang, ia hanya melihat bayangan kekasihnya, seorang putri yang dingin dan jauh, tanpa secercah kehangatan yang dulu ia kenal.

"Putri tampak berbeda," gumam Li Wei suatu malam, menatap Yue dari kejauhan di Festival Lentera. Cahaya lampion menari di wajah Yue, menyembunyikan kepedihan yang ia rasakan.

"Waktu mengubah segalanya, Jenderal Li," jawab Yue, suaranya lirih seperti desahan angin. Ia benci kebohongan ini, tapi ia juga takut mengecewakan ibunya, satu-satunya keluarga yang ia miliki.

Perlahan, Li Wei mulai mencurigai ada yang disembunyikan. Insting prajuritnya menuntunnya untuk menggali kebenaran di balik tirai kerajaan. Setiap petunjuk yang ia temukan semakin memperkuat keyakinannya: Putri Mingzhu yang ia kenal telah hilang.

Pencarian Li Wei membawanya ke lorong-lorong rahasia Istana, di mana ia menemukan surat-surat tersembunyi yang ditulis oleh Mingzhu sebelum kecelakaan. Surat-surat itu mengungkapkan rencana jahat Permaisuri Zhao untuk menyingkirkan Mingzhu agar Yue bisa mengambil alih takhtanya. Kecelakaan itu bukanlah kecelakaan, melainkan rencana pembunuhan yang sempurna.

Konflik batin Yue semakin memuncak. Ia terjebak antara kesetiaannya kepada ibunya dan dorongan untuk mengungkapkan kebenaran. Mimpi buruk menghantuinya setiap malam; wajah Mingzhu yang terlupakan, suara ibunya yang manipulatif, dan tatapan penuh curiga Li Wei.

Puncaknya terjadi saat Perayaan Tahun Baru. Di hadapan seluruh pejabat kerajaan, Li Wei membongkar kebohongan Permaisuri Zhao. Ia menunjukkan surat-surat Mingzhu dan menuduh sang permaisuri atas percobaan pembunuhan. Istana terdiam. Yue, dengan air mata berlinang, akhirnya mengakui kebenarannya.

Permaisuri Zhao, yang dikuasai amarah, berusaha membunuh Yue. Namun, Li Wei bergerak cepat, menghalangi serangan itu dan melumpuhkan sang permaisuri.

Balas dendam Li Wei tidak berdarah-darah. Ia tahu bahwa hukuman mati akan menjadi terlalu mudah bagi Permaisuri Zhao. Sebaliknya, ia membiarkan sang permaisuri hidup, diasingkan dari istana dan kehilangan semua kekuasaannya. Hukuman yang paling kejam adalah hidup dalam penyesalan.

Yue, akhirnya terbebas dari belenggu kebohongan, berdiri tegak. Ia menatap Li Wei dengan senyum tipis, senyum yang menyimpan perpisahan abadi. Ia tahu bahwa hubungan mereka telah hancur, tidak mungkin diperbaiki.

"Terima kasih, Jenderal Li," ucapnya, suaranya dipenuhi kepedihan.

Li Wei hanya membalas tatapan Yue, matanya dipenuhi campuran kekecewaan dan pengertian.

Dan saat Yue berbalik, melangkah menjauh dari Li Wei, ia bertanya-tanya: Akankah ada yang percaya pada seorang putri bayangan yang berusaha menjadi dirinya sendiri?

You Might Also Like: Peluang Bisnis Skincare Bisnis Tanpa

0 Comments: