## Aku Memeluk Bayanganmu, Karena Hanya Itu yang Masih Kuingat Hujan turun di atas makam. Bukan gerimis yang menenangkan, melainkan curaha...

Cerita Seru: Aku Memeluk Bayanganmu, Karena Hanya Itu Yang Masih Kuingat Cerita Seru: Aku Memeluk Bayanganmu, Karena Hanya Itu Yang Masih Kuingat

Cerita Seru: Aku Memeluk Bayanganmu, Karena Hanya Itu Yang Masih Kuingat

Cerita Seru: Aku Memeluk Bayanganmu, Karena Hanya Itu Yang Masih Kuingat

## Aku Memeluk Bayanganmu, Karena Hanya Itu yang Masih Kuingat Hujan turun di atas makam. Bukan gerimis yang menenangkan, melainkan curahan air mata langit yang seolah ikut berduka. Batu nisan itu basah, terukir nama Lin Mei, 24 tahun. Di sanalah aku berdiri, tak terlihat, tak tersentuh, hanya seonggok *bayangan* yang menolak pergi. Aku Lin Mei. Atau, setidaknya, *dulu* aku adalah Lin Mei. Dunia ini terasa asing. Sejuk, hampa, dan diliputi kabut kelabu yang tak berujung. Aku hanya bisa menyaksikan kehidupan yang terus berjalan, tanpa mampu menggapainya. Keluarga, sahabat, kekasihku… mereka semua hidup dalam dunia yang tak bisa lagi kuraih. Aku *mati* dalam kecelakaan tragis. Sebuah tabrak lari yang membuatku pergi tanpa sempat mengucapkan satu kata pun. Kebenaran itu terkubur bersamaku, menjadi duri yang menusuk-nusuk jiwaku. Maka aku kembali. Bukan sebagai malaikat, bukan pula sebagai iblis. Hanya sebagai *roh penasaran* yang terikat pada satu tujuan: menuntaskan apa yang tertinggal. Setiap malam, aku mengunjungi rumahnya. Zhang Wei, kekasihku. Lelaki itu tampak kurus, matanya sayu, senyumnya hilang. Ia sering duduk di balkon, menatap kosong ke arah langit. Aku ingin memeluknya, menenangkannya, mengatakan betapa aku mencintainya. Tapi aku hanya bisa berdiri di sampingnya, *memeluk bayangannya*, karena hanya itu yang masih kuingat – sentuhan, kehangatan, cinta yang membara. Aku mengikuti Zhang Wei ke mana pun ia pergi. Aku melihatnya menyelidiki kasus kecelakaanku, mengumpulkan petunjuk demi petunjuk. Ia seperti orang gila, terobsesi untuk menemukan keadilan. Aku ingin membantunya, tapi bagaimana? Aku hanyalah hantu, sehelai napas yang tak kasatmata. Lambat laun, aku mulai menyadari sesuatu. Zhang Wei bukan mencari keadilan. Ia mencari *pembenaran*. Ia menyalahkan dirinya sendiri atas kematianku. Ia percaya bahwa jika saja ia bersamaku malam itu, semuanya akan berbeda. Setiap malam, aku melihatnya bermimpi buruk. Aku mendengar rintihannya, menyaksikan air matanya. *Hatiku* – jika aku masih memilikinya – hancur berkeping-keping. Maka, aku memutuskan untuk mengubah tujuanku. Bukan lagi *balas dendam* yang kuinginkan. Bukan lagi keadilan yang kucari. Melainkan… *kedamaian*. Aku ingin membebaskan Zhang Wei dari rasa bersalahnya. Aku ingin membuatnya mengerti bahwa kematianku bukanlah kesalahannya. Aku ingin ia melanjutkan hidup, menemukan kebahagiaan, dan mengingatku bukan dengan kesedihan, melainkan dengan senyuman. Suatu malam, saat Zhang Wei tertidur lelap, aku mencoba berkomunikasi dengannya. Aku menyentuh pipinya dengan dingin, membisikkan namanya dengan lirih. Aku tahu ia tidak mendengarku, tidak merasakanku. Tapi aku terus mencoba, terus berusaha. Tiba-tiba, ia tersentak bangun. Matanya terbuka lebar, menatap ke arahku. Aku terkejut. Apakah ia melihatku? Apakah ia merasakanku? "Lin… Mei?" bisiknya, suaranya bergetar. Aku tidak menjawab. Aku hanya tersenyum. Senyuman yang tulus, senyuman yang penuh cinta, senyuman yang penuh harapan. Kemudian, aku melihatnya. *Cahaya*. Cahaya putih yang terang benderang, memanggilku pulang. Ini saatnya. Aku harus pergi. Aku menatap Zhang Wei untuk terakhir kalinya. Aku melihat air mata mengalir di pipinya. Aku melihat senyuman tipis terukir di bibirnya. Aku mengangkat tangan, menyentuh pipinya sekali lagi. Kemudian, aku berbalik dan melangkah menuju cahaya. *Semuanya… sudah berakhir…*
You Might Also Like: 96 Fakta Menarik Tabir Surya Mineral

0 Comments: