Baiklah, inilah kisah puitis bergaya *dracin* klasik yang kamu minta: **Kau Memilih Dia Demi Nama Baik, Padahal Aku yang Menanggung Dosany...

Cerpen: Kau Memilih Dia Demi Nama Baik, Padahal Aku Yang Menanggung Dosanya Cerpen: Kau Memilih Dia Demi Nama Baik, Padahal Aku Yang Menanggung Dosanya

Cerpen: Kau Memilih Dia Demi Nama Baik, Padahal Aku Yang Menanggung Dosanya

Cerpen: Kau Memilih Dia Demi Nama Baik, Padahal Aku Yang Menanggung Dosanya

Baiklah, inilah kisah puitis bergaya *dracin* klasik yang kamu minta: **Kau Memilih Dia Demi Nama Baik, Padahal Aku yang Menanggung Dosanya** Kabut lembayung menyelimuti Paviliun Bulan, *sepi* dan abadi seperti lukisan yang tak pernah selesai. Di sanalah, di antara bambu berdesir dan kolam koi yang tenang, hatiku pertama kali bersemi. Bukan bersemi, lebih tepatnya: merekah paksa. Wajahmu, *sepucat* giok yang baru diasah, terpantul dalam riak air. Senyummu, *sehangat* mentari di musim semi, namun hanya untuknya. Kau, Putri Kembang Teratai, terikat sumpah setia pada pria yang namanya terukir di batu prasasti kekuasaan. Pria yang ambisinya membentang seluas *langit*, namun hatinya sekosong gurun pasir. Aku? Hanya bayangan, *pengawal* setia, pelindung rahasiamu. Cinta ini terlarang, seperti anggur termahal yang tak boleh dicicipi budak. Setiap tatap mata, setiap sentuhan tak sengaja, adalah dosa yang menumpuk di pundakku. Kau memilihnya, *demi* nama baik keluarga, *demi* kelangsungan dinasti. Aku mengerti, sungguh. Tapi mengertikah kau, setiap langkahmu menjauh, hatiku tercabik *lebih dalam* dari luka perang? Malam-malam panjang kuhabiskan di bawah rembulan, menulis syair tentangmu. Syair yang takkan pernah sampai ke tanganmu. Syair yang terbakar menjadi abu, *seperti* harapan yang lenyap. Kudengar desas-desus tentang kebahagiaanmu. Tentang pesta pernikahan yang megah. Tentang senyum palsu yang kau persembahkan pada dunia. Sementara aku, di balik tirai bambu, menanggung setiap *derita* yang kau sembunyikan. Waktu berlalu, seperti sungai yang tak pernah berhenti mengalir. Sampai akhirnya, legenda itu terkuak. *Pengungkapan* itu datang seperti petir di siang bolong. Bahwa *dia*, pria yang kau puja, pria yang kau pilih, berselingkuh. Bukan hanya dengan satu wanita, tapi puluhan. Kekayaannya dibangun di atas darah dan air mata rakyat. Dan kau, Putri Kembang Teratai, hanya pion dalam permainannya. Kau datang padaku, *terisak* dalam kegelapan. Menyesali pilihanmu, menyesali nasibmu. Tapi terlambat. Terlambat untuk segalanya. Kau bertanya, mengapa aku tak pernah mengungkap kebenaran ini. Aku hanya tersenyum pahit. "Karena aku mencintaimu. Dan cinta sejati, terkadang, membutuhkan *pengorbanan*." **Namun, kenyataan yang tersembunyi jauh lebih menyakitkan**: *Akulah yang menutupi semua kejahatan pria itu, demi melindungimu dari aib dan kehancuran*. Akulah yang menanggung dosanya, agar kau tetap bisa memegang mahkota *kebajikan*. Akulah yang rela menjadi *iblis*, agar kau tetap menjadi *malaikat*. Kau memilih dia demi nama baik... dan aku selamanya terperangkap dalam ingatanmu. … *Apakah kau mengingatnya?*
You Might Also Like: Cerpen Keren Bayangan Yang Menyimpan

0 Comments: