Tentu, inilah kisah pendek bergaya dracin berjudul 'Kau Menatapku dengan Cinta, Tapi Cinta Itu Kini Beracun': **Kau Menatapku dengan...

Kisah Populer: Kau Menatapku Dengan Cinta, Tapi Cinta Itu Kini Beracun Kisah Populer: Kau Menatapku Dengan Cinta, Tapi Cinta Itu Kini Beracun

Kisah Populer: Kau Menatapku Dengan Cinta, Tapi Cinta Itu Kini Beracun

Kisah Populer: Kau Menatapku Dengan Cinta, Tapi Cinta Itu Kini Beracun

Tentu, inilah kisah pendek bergaya dracin berjudul 'Kau Menatapku dengan Cinta, Tapi Cinta Itu Kini Beracun': **Kau Menatapku dengan Cinta, Tapi Cinta Itu Kini Beracun** Langit senja memerah, sama persis dengan bibirnya saat pertama kali mengucapkan janji. Dulu, matanya adalah bintang yang membimbingku. Sekarang, hanya ada _kehampaan_ di sana. Dulu, senyumnya adalah matahari yang menghangatkan jiwaku. Sekarang, senyum itu hanya topeng, menutupi **kebusukan** yang merajalela di hatinya. "Ling'er," bisiknya, suaranya dulu begitu merdu, sekarang hanya terdengar seperti desisan ular. "Aku merindukanmu." Aku, Ling'er, hanya tersenyum tipis. Senyum yang dia sukai, senyum yang dulunya dia puja. "Benarkah? Aku merindukan kejujuranmu yang dulu, Chen." Dulu, pelukannya terasa seperti rumah. Sekarang, setiap sentuhan terasa seperti *racun* yang perlahan membunuhku. Aku bisa merasakan aroma pengkhianatan di setiap helaan nafasnya. Dia pikir aku tidak tahu? Dia pikir aku buta? Bertahun-tahun aku mencintainya, mempercayainya. Memberikan seluruh hatiku padanya. Chen, pria yang kucintai lebih dari hidupku sendiri, ternyata adalah orang yang paling mahir menusukku dari belakang. Cinta yang dulu begitu tulus, kini berubah menjadi **duri** yang menghancurkan. Aku ingat janji-janjinya, terukir indah di benakku. Janji tentang keabadian, tentang cinta sejati, tentang keluarga yang akan kita bangun. Sekarang, janji-janji itu hanyalah serpihan belati yang menghujam jantungku. Tapi aku, Ling'er, tidak akan menangis. Tidak di depannya. Aku akan berdiri tegak, bak bunga teratai yang tumbuh di lumpur. Aku akan membalasnya, bukan dengan darah, bukan dengan air mata. Tapi dengan sesuatu yang jauh lebih menyakitkan: **PENYESALAN ABADI!** Aku telah merencanakan segalanya dengan sempurna. Setiap langkah, setiap detail. Aku akan membuatnya menyesal telah mengkhianatiku, menyesal telah meremehkanku. Aku akan mengambil semua yang dia miliki, bukan untukku, tapi untuk melihatnya hancur berkeping-keping. Saat dia menyadari apa yang telah kulakukan, matanya memancarkan *kengerian* dan *kehancuran*. Dia mencoba untuk memohon, untuk meminta maaf. Tapi aku hanya menatapnya dengan tatapan dingin yang sama, seperti dia menatapku dulu, saat pertama kali bertemu dengan wanita itu. "Kau... kau *kejam*," bisiknya, suaranya bergetar. Aku tersenyum. Senyum yang kali ini tidak lagi menipu. "Kau yang menciptakanku, Chen. Kau yang mengubah cintaku menjadi *dendam*." Aku berbalik, meninggalkannya dalam kehancurannya. Aku tahu, dia akan mengingatku selamanya. Bukan sebagai Ling'er yang mencintainya, tapi sebagai Ling'er yang menghancurkannya. Saat aku melangkah pergi, aku menyadari satu hal: cinta dan dendam lahir dari tempat yang sama... **JANTUNG**.
You Might Also Like: 5 Rahasia Mimpi Diserang Kuda Jangan

0 Comments: