## Kau Menatapku dengan Cinta, tapi Cinta Itu Kini Beracun Pagi di Danau Barat terasa kabur, seperti lukisan cat air yang belum kering sempu...

Cerpen Keren: Kau Menatapku Dengan Cinta, Tapi Cinta Itu Kini Beracun Cerpen Keren: Kau Menatapku Dengan Cinta, Tapi Cinta Itu Kini Beracun

Cerpen Keren: Kau Menatapku Dengan Cinta, Tapi Cinta Itu Kini Beracun

Cerpen Keren: Kau Menatapku Dengan Cinta, Tapi Cinta Itu Kini Beracun

## Kau Menatapku dengan Cinta, tapi Cinta Itu Kini Beracun Pagi di Danau Barat terasa kabur, seperti lukisan cat air yang belum kering sempurna. Mei Hua, dengan gaun sutra putihnya, berdiri di tepi danau, merasakan angin sepoi-sepoi menyapu wajahnya. Entah mengapa, aroma lotus dan tanah basah membuatnya *sesak*. Rasa sakit yang tajam menusuk kepalanya, kilasan-kilasan adegan aneh berkelebat di benaknya: istana megah, pedang berlumuran darah, dan *tatapan*...tatapan yang penuh cinta sekaligus pengkhianatan. Dia adalah pewaris tunggal keluarga Zhang, terlahir di era modern, tapi jiwanya menyimpan rahasia dari kehidupan lampau. Sejak kecil, Mei Hua selalu merasa ada yang hilang, sebuah fragmen penting dari dirinya yang terkubur dalam ingatan. Lalu, dia bertemu dengannya. Li Wei. Pemuda tampan dengan senyum yang mampu meluluhkan hati siapa saja. Matanya... mata itu *persis* sama dengan mata yang menghantuinya dalam mimpi. Mata seorang pangeran yang berjanji sehidup semati di bawah pohon sakura yang bermekaran. "Mei Hua, apa yang kau pikirkan?" Li Wei bertanya, suaranya lembut menyentuh telinganya. Mei Hua tersenyum pahit. “Hanya... masa lalu yang terasa begitu dekat.” Mereka menjalin hubungan. Hari-hari mereka diisi dengan tawa, kencan romantis, dan janji-janji manis. Tapi semakin dalam Mei Hua mencintainya, semakin kuat pula bayangan masa lalu itu menghantuinya. Dalam tidurnya, ia melihat dirinya, seorang putri, menikahi seorang pangeran. Ia melihat pengkhianatan. Ia melihat *pedang* yang menembus dadanya. Dan di mata pangeran itu... mata Li Wei... ada *cinta* yang beracun. Seiring waktu, puzzle itu mulai tersusun. Ia *INGAT*. Ia ingat bagaimana Li Wei, yang dulunya Pangeran Wei, merebut tahta dengan membunuhnya. Ia ingat bagaimana ia, Putri Zhang, terlalu bodoh untuk melihat kebenaran di balik senyum manisnya. Ia ingat bagaimana cinta itu berubah menjadi *racun* yang mematikan. "Li Wei," Mei Hua berkata suatu sore, duduk bersamanya di taman. "Apakah kau percaya pada reinkarnasi?" Li Wei tertawa kecil. "Itu hanya dongeng, Mei Hua." "Benarkah?" Mei Hua menatapnya dalam-dalam. "Lalu bagaimana kau menjelaskan tatapanmu? Tatapan yang sama dengan tatapan seorang pangeran yang mengkhianati cintanya demi tahta?" Wajah Li Wei menegang. Mei Hua bangkit berdiri. "Aku tahu semuanya, Li Wei. Semuanya." Li Wei tidak menyangkal. Ia hanya menatapnya, matanya dipenuhi *permohonan*. "Mei Hua, aku bisa menjelaskannya..." Mei Hua menggelengkan kepalanya. Balas dendamnya tidak akan dalam bentuk pedang atau darah. Balas dendamnya adalah *keputusan*. "Aku tidak bisa bersamamu, Li Wei. Aku tidak bisa mencintai seseorang yang membunuhku di kehidupan sebelumnya." Ia berbalik dan pergi, meninggalkan Li Wei yang terpaku di tempatnya. Mei Hua tahu, dengan setiap langkahnya, ia mengubah takdir mereka berdua. Ia memutuskan lingkaran reinkarnasi ini. Ia memilih *kedamaian* daripada *pembalasan*. Di saat senja menyelimuti Danau Barat, Mei Hua berjanji pada dirinya sendiri. Janji yang lebih kuat dari sumpah sehidup semati. Janji yang akan ia pegang teguh, bahkan jika harus menunggu seribu tahun lagi. *Cinta yang kita miliki kini tertunda, sampai nanti, di kehidupan selanjutnya, kuharap kamu telah belajar, Li Wei.*
You Might Also Like: Jual Skincare Non Komedogenik Untuk

0 Comments: