Baiklah, ini dia kisah pendek yang terinspirasi dari dracin, dengan penekanan pada emosi, simbolisme alam, dan kejutan di akhir: **Senja di Lembah yang Hilang** Hujan menggigil di atap gubuk reyot itu, persis seperti dulu, saat mereka masih saling menggenggam erat di bawah langit yang sama. Mei Lan menatap nyala lentera yang berkedip-kedip, cahayanya menari-nari di wajah Yu Fang yang pucat. Dulu, wajah itu selalu membuatnya tersenyum. Sekarang, hanya ada bayangan _patah_ yang menghantui. "Kau datang," bisik Yu Fang, suaranya serak, nyaris tak terdengar di tengah gemuruh hujan. "Ya," jawab Mei Lan singkat. Setiap kata terasa seperti duri yang menusuk tenggorokannya. Dulu, ia akan memanggil nama Yu Fang dengan nada penuh cinta. Sekarang, nama itu bagai mantra yang membangkitkan seluruh luka. Lima tahun. Lima tahun sejak pengkhianatan itu terjadi. Lima tahun sejak Yu Fang memilih kemewahan dan kekuasaan, meninggalkannya di lembah terpencil ini. Lima tahun sejak Mei Lan menyaksikan hatinya hancur berkeping-keping di bawah _cahaya bulan yang kejam_. "Aku... aku minta maaf," kata Yu Fang, matanya meredup. Mei Lan tertawa getir. "Maaf? Apakah maaf bisa mengembalikan semua yang telah kau curi?" Hujan semakin deras. Bayangan lentera menari semakin liar. Di luar, angin meratap, seolah ikut merasakan kesedihan Mei Lan. "Aku tahu aku salah," Yu Fang berusaha meraih tangan Mei Lan, tapi ia menghindar. "Aku... aku tidak punya pilihan." "Pilihan?" Mei Lan mencibir. "Kau selalu punya pilihan, Yu Fang. Kau hanya memilih untuk menyakitiku." Keheningan menyelimuti mereka. Hanya suara hujan yang mendominasi. Mei Lan mengeluarkan sebuah botol kecil dari balik jubahnya. Aroma pahit langsung menyeruak memenuhi ruangan. "Kau ingat bunga *Lian Hua* yang hanya mekar di saat kematian?" tanya Mei Lan, senyum tipis menghiasi bibirnya. "Kau selalu bilang aku secantik bunga itu." Yu Fang menatap botol itu dengan ngeri. "Apa... apa yang akan kau lakukan?" Mei Lan menuangkan cairan itu ke dalam cangkir. "Kau mati di sisiku, Yu Fang. Tapi rasanya... seperti AKU dilahirkan kembali. Aku membebaskan diriku dari belenggu masa lalu." Yu Fang berusaha bangkit, tapi tubuhnya terlalu lemah. Ia terbatuk, darah segar menyembur dari mulutnya. Mei Lan berjongkok di sampingnya, menatapnya dengan mata dingin. "Kau bertanya mengapa aku datang? Aku datang untuk memastikan balas dendamku sempurna." Yu Fang meraih tangan Mei Lan, berusaha mengatakan sesuatu. Tapi suaranya hanya berupa erangan. Mei Lan mencondongkan tubuhnya, mendekatkan telinganya ke bibir Yu Fang. "A-aku... bukan... aku... *yang*..." Napas Yu Fang terhenti. Matanya terbuka lebar, menatap langit-langit gubuk dengan tatapan kosong. Mei Lan berdiri, menatap jasad Yu Fang dengan _kebencian yang membara_. Ia membersihkan jejaknya, lalu melangkah keluar dari gubuk, meninggalkan mayat Yu Fang di tengah hujan yang menggila. Saat ia berjalan menjauh, Mei Lan tersenyum. Balas dendamnya memang sudah terbayar lunas. Tapi... *Siapa sebenarnya yang memerintahkan Yu Fang untuk menikah dengan putri kerajaan, dan mengapa surat wasiat itu menyebut nama Mei Lan sebagai pewaris seluruh kekayaannya?!*
You Might Also Like: 0895403292432 Skincare Terbaik Dengan

0 Comments: