Baiklah, ini dia kisah puitis ala Dracin klasik yang Anda minta: **Kau Menulis Surat Padaku, Tapi Membakarnya Sebelum Kukenal Tintanya** Kabut melayang di Danau Zamrud, serupa selendang sutra yang menutupi rahasia purba. Di tepiannya, berdiri paviliun usang, saksi bisu *kegelapan* yang mengintai di balik gemerlap lampu lampion. Di sanalah, dalam mimpi yang *terjalin* dari benang sutra dan air mata, aku pertama kali melihatmu. Wajahmu tersembunyi di balik topeng bulan sabit, senyummu bagai gerhana matahari – hadir sekejap, lalu lenyap ditelan bayang-bayang. Kau menggenggam kuas di tangan, melukisku di atas kanvas *rembulan*, namun matamu memancarkan kesedihan yang lebih dalam dari samudra. Setiap malam, aku menunggumu di paviliun itu. Mendengarkan alunan seruling bambu yang mengiris kalbu, membaca bait-bait puisi yang kau tinggalkan terukir di batang pohon sakura. Kata-katamu adalah sungai yang mengalir deras, membawaku ke negeri mimpi yang penuh dengan bunga teratai dan janji-janji yang *terlupakan*. Kau menulis surat padaku, aku tahu itu. Aroma tinta *anggrek* dan kertas *kulit* berhembus seiring angin malam. Aku bisa merasakan kehadiranmu di setiap goresan pena, di setiap kata yang tersembunyi di balik simbol kaligrafi. Tapi, sebelum aku sempat menyentuhnya, sebelum aku sempat mengeja namamu di sana, kau membakarnya. Api menari-nari, melahap kertas itu menjadi abu. Asapnya mengepul ke langit, membawa serta harapan dan penantianku. Mengapa kau lakukan itu? Mengapa kau hadirkan mimpi seindah ini, lalu menghancurkannya dengan tanganmu sendiri? Bertahun-tahun berlalu, mimpi itu masih menghantuiku. Aku mencari jejakmu di setiap sudut kota terlarang, di setiap kuil yang dipenuhi aroma dupa. Namun, kau tetap menjadi siluet yang samar, bayangan yang tak mungkin kuraih. Hingga suatu senja, di saat bunga persik mulai berguguran, aku menemukan kotak kayu kecil tersembunyi di balik lukisan kuno. Di dalamnya, terdapat sepotong kertas yang terbakar sebagian, hanya menyisakan beberapa kata yang *mampu* kubaca: “…untukmu, *kekasihku*, maafkan aku…”. Di bawahnya, terukir sebuah nama yang sudah lama kukenal: namaku sendiri. *DEG!* Ternyata, aku yang menulis surat itu. Aku yang menciptakan mimpi ini. Aku yang membakarnya. Aku melukis diriku sendiri dalam kabut, lalu menghancurkannya karena *ketakutan* akan kenyataan. Semua keindahan ini, semua kerinduan ini, hanyalah pantulan dari jiwaku yang terluka, bayangan dari masa lalu yang tak pernah terjadi. Bisakah kau mendengar suaraku dari sana, di antara debu bintang dan *air* mata?
You Might Also Like: Kisah Seru Aku Membunuhmu Perlahan Tapi

0 Comments: